Senin, 16 Mei 2011

Pengawasan Ekonomi (Economy Controlling)

Sintong Jonatan Hutapea
19410756
1IBO2

Pengawasan Ekonomi (Economy Controlling)

          Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian, adalah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian dan sekaligus bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang sedang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula. Dalam pelaksanaan kegiatan controlling, atasan mengadakan pemeriksaan, mencocokkan serta mengusahakan agar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan serta tujuan yang ingin dicapai.
           Pengawasan dalam manajemen pada dasarnya diarahkan untuk menghindari kemungkinan penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai suatu organisasi. Dalam kaitannya dengan lembaga keuangan negara, pengawasan ditujukan untuk menghindari terjadinya korupsi, penyimpangan serta pemborosan yang ditujukan pada aparatur negara atau lembaga pemerintahan yang mengelola anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dengan dijalankannya pengawasan tersebut, diharapkan mekanisme anggaran negara dapat berjalan sebagaimana dikehendaki semula sesuai dengan rencananya, serta benar-benar terjamin APBN yang akan dipakai untuk tujuan bernegara. Hal ini sejalan dengan konsep manajemen, dimana pengawasan merupakan usaha untuk menjaga agar suatu pekerjaan dapat memperkecil timbulnya hambatan-hambatan, yang jika telah terjadi dapat segera diketahui dan dilakukan tindakan-tindakan perbaikannya. Pengawasan yang perlu dilakukan adalah yang seimbang antara pegangan pada rule of law dan orientasi pencapaian tujuan (mission driven), menegakkan kebenaran formal dan kebenaran materiil, dan mencakup pengawasan preventif dan kuratif, serta berdasarkan keseimbangan azas praduga tidak bersalah dan azas pembuktian terbalik.
           Melihat kondisi birokrasi dan pemerintahan, Azhar Kasim menyatakan bahwa telah terjadi tiga permasalahan laten yang menyebabkan buruknya kualitas sistem manajemen kepemerintahan, yakni pengawasan yang masih difokuskan pada proses penyelenggaraan kegiatan birokrasi pemerintah dan penekanan masih pada ketaatan terhadap juklak dan juknis (rule driven) daripada pencapain tujuan (tupoksi) yang berorientasi pada mission driven, kapabilitas administrasi negara masih rendah dan fungsi pengawasan belum terintegrasi dengan baik kedalam siklus administrasi negara, paradigma pengawasan yang lebih menekankan pada upaya menegakkan kebenaran formal, yaitu kesesuaian dokumen dan laporan keuangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kurang menekankan pada upaya mencari kebenaran materiil (kenyataan sebenarnya) serta pratek pengawasan yang lebih menekankan pada upaya kuratif daripada preventif.

Senin, 02 Mei 2011

Coordinating (Pengkoordinasian)

Sintong Jonatan Hutapea
19410756
1IB02

Coordinating (Pengkoordinasian)

          Coordinating atau mengkoordinasi merupakan salah satu fungsi management untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan, kegiatan dengan jalan menghubung-hubungkan, menyatu-padukan dan menyelaraskan pekerjaan-pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerjasama yang terarah dalam usaha mencapai tujuan organisasi atau mencapai tujuan bersama. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai maksud itu antara lain dengan memberikan instruksi, perintah, mengadakan pertemuan-pertemuan dalam mana diberi penjelasan-penjelasan, bimbingan atau nasehat, dan mengadakan coaching dan bila perlu memberikan teguran.
          Untuk melihat kemampuan seorang manager dalam memimpin dan melakukan koordinasi, dilihat dari besar kecilnya jumlah bawahan yang ada dalam tanggung jawabnya, yang dikenal sebagai rentang manajemen. Koordinasi didefinisikan sebagai proses penyatuan tujuan-tujuan perusahaan dan kegiatan pada tingkat satu satuan yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Koordinasi dibutuhkan sekali oleh para karyawan, sebab tanpa ini setiap karyawan tidak mempunyai pegangan mana yang harus diikuti, yang akhirnya akan merugikan organisasi itu sendiri.
          Pedoman organisasi :
a. Koordinasi harus terpusat, sehingga ada unsur pengendalian guna menghindari tiap bagian bergerak sendiri-sendiri yang merupakan kodrat yang telah ada dalam setiap bagian, ingat bahwa organisasi merupakan dari orang-orang yang mempunyai keinginan dan kebutuhan berbeda.
b. Koordinasi harus terpadu, keterpaduan pekerjaan menunjukkan keadaan yang saling mengisi dan memberi.
c. Koordinasi harus berkesinambungan, yaitu rangkaian kegiatan yang saling menyambung, saling terjadi, selalu diusahakan dan selalu ditegaskan adanya keterkaitan dengan kegiatan sebelumnya.
d. Koordinasi harus menggunakan pendekatan multi instansional dengan wujud saling memberikan informasi yang relevan untuk menghindarkan saling tumpang tindih tugas yang satu dengan tugas yang lain.

Jumat, 22 April 2011

Pengorganisasian Ekonomi (Economy Organizing)

Sintong Jonatan Hutapea
19410756
1IB02

Pengorganisasian Ekonomi (Economy Organizing) Pada Wirausahawan Restaurant

           Pengorganisasian adalah suatu proses pembentukan kegunaan yang teratur untuk semua sumber daya dalam sistem manajemen. Penggunaan yang teratur tersebut menekankan pada pencapaian tujuan sistem manajemen dan membantu wirausahawan tidak hanya dalam pembuatan tujuan yang nampak tetapi juga didalam menegaskan sumber daya yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Organisasi kewirausahaan, pada kali ini menunjukkan pada hasil-hasil proses pengorganisasian.
           Fungsi pengorganisasian sangat penting bagi sistem manajemen karena ia adalah mekanisme utama dengan mana wirausahawan mengaktifkan rencana-rencana. Pengorganisasian menciptakan dan mempertahankan hubungan antara semua sumber daya-sumber daya organisasional dengan menunjukkan sumber daya-sumber daya mana yang akan digunakan untuk aktifitas tertentu, dan kapan, dimana, dan bagaimana sumber daya tersebut digunakan. Suatu usaha pengorganisasian yang mendalam akan membantu wirausahawan didalam meminimalisasi kelemahan, seperti peniruan usaha dan sumber daya organisasional yang menganggur.
           Beberapa teorisi manajemen memandang fungsi pengorganisasian demikian pentingnya, sehingga mereka menyarankan diciptakannya dan difungsikannya departemen pengorganisasian dalam sistem manajemen. Bidang tanggungjawab dari departemen tersebut termasuk juga, (1) pengembangan rencana-rencana reorganisasi yang akan membuat sistem manajemen lebih efektif dan efisien, (2) mengembangkan rencana-rencana untuk memperbaiki keterampilan manajerial yang sesuai dengan kebutuhan sistem manajemen sekarang ini, (3) berusaha untuk mengembangkan suatu iklim organisasional yang menguntungkan dalam sistem manajemen.
Lima langkah utama dalam proses pengorganisasian adalah :
1.) Tercermin dalam rencana-rencana dan tujuan-tujuan.
2.) Menetapkan tugas-tugas pokok.
3.) Membagi tugas-tugas pokok kedalam subtugas-subtugas.
4.) Alokasi sumber daya-sumber daya  dan pengarah bagi subtugas-subtugas.
5.) Mengevaluasi hasil dari strategi pengorganisasian yang diimplementasikan.
           Wirausahawan hendaknya secara terus menerus mengulangi langkah-langkah tersebut. Melalui perulangan langkah tersebut, mereka akan mendapatkan umpan balik (feedback) yang akan membantu mereka didalam memperbaiki organisasi kewirausahaan yang ada. Wirausahawan restoran bisa menjadi contoh bagaimana proses pengorganisasian mungkin berfungsi. Langkah pertama dari wirausahawan berupa memulai proses pengorganisasian yang akan tercermin dalam rencana-rencana dan tujuan-tujuan restaurant tersebut. Karena rencana-rencana melibatkan penentuan bagaimana restaurant akan mencapai tujuan-tujuan, dan pengorganisasian melibatkan penentuan bagaimana sumber daya-sumber daya restaurant sesungguhnya akan digunakan untuk mengaktifkan rencana-rencana, wirausahawan restaurant hendaknya memulai pengorganisasian dengan mengerti perencanaan.
           Langkah kedua dan ketiga dari proses pengorganisasian dipusatkan pada tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam sistem manajemen. Sesudah wirausahawan mengerti rencana-rencana dan tujuan-tujuan dari restaurant, dia harus merancang bidang tugas atau pekerjaan besar yang harus dilaksanakan di restaurant. Pad restaurant tertentu, dua dari bidang tersebut mungkin penunggu pelanggan, koki masak. Kemudian dia harus membagi tugas besar tersebut menjadi subtugas-subtugas. Contohnya, dia mungkin memutuskan bahwa subtugas-subtugas dari penunggu pelanggan adalah pengantar pesanan dan pembersih meja.
           Langkah pengorganisasian keempat wirausahawan restaurant harus menentukan siapa yang akan mengantar pesanan, siapa yang akan membersihkan meja, dan seluk beluk dari hubungan diantara individu-individu tersebut. Tipe meja atau tata ruang dan tipe peralatan makan yang digunakan juga merupakan faktor yang harus dipertimbangkan disini. Langkah kelima, evaluasi hasil-hasil dari strategi pengorganisasian tertentu, yang memerlukan wirausahawan restaurant untuk mengumpulkan umpan balik tentang seberapa baik strategi pengorganisasian yang diimplementasikan. Umpan balik ini bisa digunakan oleh wirausahawan untuk mempebaiki organisasi kewirausahawan yang ada. Contohnya, wirausahawan mungkin mendapati bahwa tipe tata ruang tidak cukup besar dan tipe yang besar akan memberikan hasil berupa tercapainya tujuan.









Minggu, 17 April 2011

Perencanaan Ekonomi (Planning Economy)

Sintong Jonatan Hutapea
19410756
(1IB02)
(Tugas Pengantar Ekonomi & Manajemen 2)

Perencanaan Ekonomi (Planning Economy)

          Selama 2 dekade sejak tahun 1950, dunia ditandai dengan munculnya bangsa-bangsa yang belum maju sebagai suatu kekuatan ekonomi dan politik yang berkembang cukup pesat dalam dunia internasional. Negara-negara sedang berkembang (NSB) tersebut semakin meningkatkan aspirasinya untuk mengejar ketertinggalannya  di bidang ekonomi dari negara-negara maju. Hal ini ditunjukkannya oleh diterimanya secara universal perencanaan pembangunan sebagai sarana yang utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tepat.
          Pengertian perencanaan ekonomi adalah usaha secara sadar dari suatu pusat organisasi untuk mempengaruhi, mengarahkan serta dalam beberapa hal bahkan mengendalikan perubahan variabel-variabel ekonomi yang sama (misalnya: GDP, konsumsi, investasi, tabungan dan lain-lain) dari suatu negara atau wilayah tertentu selama periode waktu tertentu sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi inti dari perencanaan ekonomi adalah gagasan tentang pengaruh, pengarahan dan pengendalian.
           Suatu rencana ekonomi bisa juga dianggap serangkaian sasaran (target) ekonomi secara kuantitatif yang khusus dan harus dicapai dalam suatu jangka waktu tertentu. Rencana ekonomi bisa bersifat menyeluruh (komprehensif) atau parsial. Suatu rencana yang bersifat komprehensif menetapkan sasarannya mencakup seluruh aspek pokok perekonomian nasional. Sedangkan rencana yang bersifat parsial hanya mencakup sebagian dari perekonomian nasional seperti sektor industri, sektor pertanian, sektor luar negeri, dan sebagainya.
           Para pendukung perencanaan pembangunan ekonomi di NSB mengemukakan bahwa perekonomian pasar (market economy) yang tidak terkendali dapat, dan sering kali, mengakibatkan negara-negara tersebut mengalami perhambatan ekonomi, gejolak harga, dan tingkat pengerjaan (employment) yang rendah. Secara lebih spesifik, mereka menyatakan bahwa ekonomi pasar tidak sesuai dengan tugas operasional negara-negara miskin, yakni bagaimana memobilisis sumber daya yang terbatas sedemikian rupa sehingga menimbulkan suatu perubahan struktural yang dibutuhkan agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dengan lancar, cepat dan seimbang. Oleh karena itu, perencanaan telah diterima sebagai suatu sarana yang esensial untuk mengarahkan dan memacu pertumbuhan ekonomi di NSB.
           Didunia ini sering kali orang membagi sistem perekonomian secara umum menjadi 2, yaitu perekonomian pasar (market economy) dan perekonomian berencana (planned economy). Namun demikian sebenarnya tidak ada perekonomian yang benar-benar berencana ataupun yang benar-benar tidak berencana, karena permasalahan perencanaan adalah suatu masalah kadar atau derajatnya saja.

 

Selasa, 22 Maret 2011

Dari Kelas Asongan Sampai Hipermarket. (Tulisan Ekonomi)

        Dari Kelas Asongan Sampai Hipermarket.
Sintong Jonatan Hutapea
19410756
1IB02

          Prestasi penjualan Coca-Cola yang meningkat pada zaman serba sulit seperti sekarang ini menggelitik rasa tahu orang. Karena Coca-Cola pindah segmen ? Jika melihat iklan produk minuman ringan ini dilayar kaca, boleh jadi orang akan berpendapat demikian. Soalnya, ada perubahan yang terlihat mencolok dalam setting iklan Coca-Cola yang tidak lagi bergaya metropolis dan mendunia. Sejak 1998, Coca-Cola mulai gencar membuat iklan yang menonjolkan latar belakang suasana pedesaan dengan kehidupan masyarakatnya sehari-hari.

          Tengok iklan seorang tua yang susah payah mendorong becak di jembatan gantung. Atau iklan seorang anak muda yang bersusah payah memperbaiki sepeda motornya di tengah terik matahari. Juga iklan yang menggambarkan sekelompok bocah kehausan sepulang bermain sepakbola. Kesemuanya mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat urban.
         
          Namun, kesemua gambaran dalam iklan itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan perubahan segmentasi produknya. Coca-Cola tidak pernah mengubah segmentasi produknya. Coca-Cola tidak pernah melakukan segmentasi konsumennya berdasarkan kelas. Hal itu bisa dijelaskan dengan distribusi Coca-Cola yang menyebar mulai dari pedagang asongan di kaki lima sampai hipermarket yang banyak dikunjungi masyarakat kelas menengah keatas. Dan soal setting iklan itu sendiri, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Coca-Cola ingin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

           Teknik beriklan yang dilakukan Coca-Cola adalah story telling atau mendongeng. Coca-Cola mengambil beberapa gaya cerita yang "agak udik". "Indonesia sedang berjuang keluar dari krisis, suasana desa membantu perasaan-perasaan nostalgia dan lebih dirasakan puitis, menyentuh rasa nasionalisme kita. Pesan ini dianggap Coca-Cola relevan.

          Untuk mendapat ide iklan yang relevan dengan konsumen, Coca-Cola melakukan survei terus-menerus selama 3 tahun. Hasil survei itulah yang kemudian dikembangkan dalam bentuk iklan. Dengan iklan keberhasilan suatu produk bisa ditentukan, contohnya Coca-Cola.

Rabu, 16 Maret 2011

Indonesia Alami Over-Bank (Tulisan Ekonomi)

Sintong Jonatan Hutapea (19410756) (1IB02)

Indonesia Alami Over-Bank
          Desakan konsolidasi perbankan menguat. Ini dikarenakan jumlah bank di Indonesia yang mencapai 130 tergolong over-bank (terlalu banyak). Sementara kapasitas maupun kapabilitas pelayanan sebagian besar bank itu amat rendah, lalu ditambah juga jaringan cabang, ATM, dan layanan internet banking hanya didominasi bank-bank papan atas. Kondisi industri perbankan Indonesia ini belum seideal di negara lain. Di Indonesia, 75% penguasaan pasar dipegang 10 bank, sedangkan di negara seperti Singapura, Swedia dan Belanda, pangsa pasar sebesar itu hanya dikuasai 5 bank. Ketiga negara itu adalah best practice industri perbankan global.
           Tak mengherankan jika aset dan kapasitas modal bank di negara-negara tersebut jadi lebih besar. Oleh karena itu mendesak konsolidasi perbankan di Indonesia, dengan cara merger atau akuisisi. Penciutan jumlah bank itu berdampak positif karena memperkuat permodalan dan kepemilikan bank yang tersisa, selain itu, akan tercipta bank yang efisien, berjaringan luas, dan skala ekonomi tinggi. Masih ada sederet keuntungan lain dengan konsolidasi bank. Kemampuan investasi bank bisa meningkat, konsumen puas dengan jaringan luas, dan keragaman variasi produk. Pemerintah pun lebih mudah melakukan pengawasan sehingga kian efektif dan efisien.
           Perampingan jumlah bank mendorong persaingan sehat antarbank. Sehingga kelak bank-bank di Indonesia bisa menjadi bank berskala global. Saat ini bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri, hanya menempati peringkat di luar 200 besar perbankan top di Asia Pasifik. Oleh karena itu, konsolidasi perbankan telah menjadi tren dunia sejak satu dekade lalu. Mantan Gubernur Bank Uni Eropa, James Attali memprediksi, dalam 20 tahun mendatang hanya terdapat 4 sampai 5 bank berskala global yang ditopang ratusan bank lokal pendukung.




Minggu, 02 Januari 2011

tugas bahasa inggris

                                                      Internet leads to moral degradation.
       For me it can be yes or no. That depends on the people who use it. If we us for positive aim, like reading newspaper online, it will give us more advantages such as increase more knowledge or info about what happen in the world, get more friends, etc. But if we look for negative things, such as pornography sites it will leads us to moral degradation.